Menjadi Sukarelawan di Jerman Demi Cita-cita

putri indasari volunteer jerman

Lahir dari keluarga sederhana di salah satu desa yang berada di Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto tak menyurutkan niat, gadis cantik ini untuk mengejar cita-cita. Meski bukan berasal dari keluarga menengah ke atas, dengan tekad ingin mandiri dan berusaha untuk tidak ingin memberatkan orang tua, mengantarkan Putri Indasari Alumni SMAN 1 Mojosari di suatu negara yang terkenal dengan kemajuan teknologinya yaitu Jerman.

Anak bungsu, terlebih jika menjadi satu-satunya anak perempuan, kerap memperoleh penjagaan ekstra daripada saudara-saudaranya yang lain. Namun Putri memutuskan untuk keluar dari zona nyaman, dan pergi kerja ke Jerman.

Salah satu Alumni SMA Negeri 1 Mojosari Kabupaten Mojokerto ini, tinggal di Jerman sejak bulan Oktober 2014. Putri mengaku sudah banyak yang berubah dalam dirinya, terutama dalam cara pandangnya terhadap dunia.” Toleransi umat beragama malah saya dapatkan di Jerman ” ujarnya.

Keberangkatannya ke Jerman, tidak melalui proses yang gampang. Ia harus membujuk keras orang tuanya agar mengizinkannya pergi di tempat yang jauh untuk mengejar cita-cita. selain itu, untuk mencari keluarga Jerman yang mau menampung dan merawatnya selama di Jerman membutuhkan usaha yang ekstra. ” akhirnya saya mendapatkan keluarga angkat yang mau menerima saya. Mereka juga memberikan tiket Jakarta-Munich dengan sistem potong gaji di tiga bulan awal menjadi au-pair” ujarnya sembari tersenyum. putri indasari sukarelawan jerman

Awal kedatangannya ke Jerman, Putri menjadi Au-Pair. Au-Pair adalah saah satu program khusus di Eropa ang memberikan kesempatan untuk bekerja di keluarga warga Jerman sekaligus memperoleh kesempatan untuk belajar bahasa dan kebudayaan Jerman. Kegiatan ini terbuka dan bisa diikuti oleh seluruh warga di dunia. Lamanya program ini sepanjang satu tahun penuh.

” Mengikuti Au-Pair membuat saya belajar tenggang rasa,” ujarnya. Iya mengisahkan, meski terdapat perjanjian kerja, namun karena ia berada di bawah pengasuhan keluarga Jerman, ia memutuskan untuk mengabaikan profesionalitas.”Waktu itu saya belum kenal siapa-siapa di Jerman. Setelah bekerja langsung mengurung diri di kamar kan nggak enak juga, ” ujarnya.

Kini setelah satu tahun berlalu, lulusan SMAN 1 Mojosari ini menjadi salah satu (sukarelawan) di Behindertenheim, Wohnheim Einrichtung, tempat orang berkebutuhan khusus di Jerman. ” jika di Indonesia orang berkebutuhan khusus masih diabaikan. Di sini, mereka diberdayakan, diberi pekerjaan oleh pemerintah”. ungkapnya bersemangat. Meski ia mengaku mulai terbesit rasa rindu terhadap tanah air. Namun ia juga tidak menampik jika ia merasa senang tinggal di Jerman. ” Orang-orang di Jerman hidupnya teratur. Transportasi publiknya juga maju, membuat saya jadi betah”. Ia memiliki segudang cita-cita yang ingin ia wujudkan selama di Jerman. “Saya ingin kuliah di Jerman, ” pungkasnya.

Segala bentuk unek-unek dan beragam aktivitasnya di Jerman ia tumpahkan dalam blog pribadinya yang berjudul Pages Of Mine dengan alamat http://putriindasari.blogspot.com. Dari blog pribadinya tergambar jelas bahwa Putri seorang berkemauan keras, punya impian dan harapan yang perlu diwujudkan walaupun harus keluar dari zona nyaman.

Segenap Bapak/Ibu guru SMAN 1 Mojosari turut bangga memiliki siswa seperti Putri Indasari, yang gigih berjuang demi mengejar cita-cita.  Kami yakin hidup kamu lebih berwarna dibandingkan dengan kebanyakan teman-temanmu di sini karena disana kamu belajar banyak hal yang belum tentu bisa didapatkan di sini. Mudah-mudahan ceritamu menginspirasi banyak orang untuk terus maju mengejar harapan dan cita-cita. Sukses selalu dan semoga tercapai segala cita-citamu…

 

 

Leave a Reply